TASAWUF

Kamis, 02 Februari 2012

CAHAYA ILAHI MENYELIMUTI JIWA PARA HAMBA-NYA


Kehidupan dunia pada hakekatnya adalah suatu gambaran bagi kehidupan akherat, yaitu; tiap orang yang berjuang di dalamnya untuk menjalankan kehidupannya, masing-masing mengarah pada segala sesuatu yang diniatkan dalam wawasan I’tiqod batinnya. Tiadalah seseorang akan memperbuat sesuatu dalam hidupnya, kecuali sesuai dengan hasrat hati dalam rasa jiwa, dan tiadalah rasa jiwa akan mengarah dalam suatu kehendak melainkan sangat dipengaruhi kuat oleh berbagai wawasan keilmuan yang dipahaminya, dan semua ini berpaut pada keyakinan dalam keimanannya. Yaitu; iman yang tiada diberikan pemahaman lanjut bagi memahami akan hak Tuhannya, akan sangat lemah sehingga sangat mudah terperosok mengarah kepada suatu langkah kehidupan yang justru bertentangan dengan kehendak Allah Jalla jallaaluh. Dan iman dengan semangat jiwa yang kuat, adalah karena diselimuti dengan cahaya ilahi dalam pemahaman akan berbagai kebajikan dari kehendak Allah dalam ketetapan syareatnya, akan mengarah pada langkah-langkah kehidupan yang sesuai dengan kehendak Allah, yaitu; dalam taufiq hidayah-Nya.
Maka dua arah dalam dua keadaan langkah kehidupan manusia, tergambar dalam dialog nurani suci fitrah insani dalam wawasan pandang getar ilahiyyah, dengan kehendak hati dalam wawasan pandang nafsu basyariyyah dunyawiyyah. dua wawasan pandang sangat berbeda keadaan kehendak dan langkah yang diinginkan dari kehidupannya, maka yang satu mengarah pada kesucian pada perjalanan Tuhan yang Rahman, dan yang satu lagi mengarah pada perjalanan kesesatan pengaruh nafsu diri dan setan. Maka berkata nurani suci kepada nafsu bayariyyah diri; ‘Wahai diriku..Sungguh aku takut kepada Allah yang telah memberi kita berita akan kenikmatan kehidupan akherat dengan surganya, dan kita beriman kepadanya,..sedangkan kamu selalu menghendaki kenikmatan kehidupan dunia dengan berbagai perkaranya,…
Maka menjawab nafsu diri dengan pandangan buruknya,,” hai diriku.. tenang saja kita ini masih muda, dan Allah itu maha pengampun, sedang ajal masih jauh..kita masih banyak waktu untuk bersenang-senang dengan segala kenikmatan dunia ini..kamu cerewet dan tidak berguna.. Kemudian dibunuhnyalah nurani suci insaninya, yang padahal berwawasan pandang dari getar ilahiyyah dari Rahmat Allah untuk mengajaknya kembali kepada jalan fitrah Tuhan Yang maha suci. Tidak hanya sekali,. setiap datang nurani suci diri yang lain,..dengan seruan sucinya , maka dibunuhnya..sehingga matilah hati, tandus tiada kesejukan dan gelap tanpa cahaya Ilahi..
Maka tiadalah pengingat dan penegurnya dalam langkah sesat pada kehidupannya, sehingga penuhlah api nafsu amaroh, api kezaliman dan kemaksiyatan, membara sangat panasnya, dan tiadalah gamabaran bagi arah langkahnya, melainkan menuju induk apinya pada kehidupan akherat dineraka jahanam, dan dalam gelap pada kegelapan hembusan asap hitam neraka jahanam. Sedangkan bagi orang-orang yang menerima seruan nurani suci dari Rahmat Tuhannya dari wawasan getar-getar ilahiyyah, akan bercahaya hatinya dan penuh dengan kesejukan dan merasakan kenikmatan hidup yang hakiki, dan tiadalah gambaran arah langkahnya, melainkan menuju induk cahaya kesejukan yaitu; pada Rahmat Tuhan dalam surga-Nya yang penuh cahaya kemilau dengan segala keindahan yang tak terbayangkan, dan penuh kesejukan. Dengan suatu tafakur ini maka dapatlah kita melihat dan merasakan langkah-langkah kehidupan yang terjadi dalam wawasan pemahaman hikmah yang ada dari kadar pemahaman hati pada kadar keimanan dalam suatu pandangan. Orang-orang yang tergambar langkah-langkah hidupnya menuju gelap pada kegelapan akheratnya (neraka) mempunyai sifat merusak,
Dan orang-orang yang tergambar langkah-langkah hidupnya menuju cahaya pada kemilaunya akherat (surga) mempunyai sifat ishlah yaitu; membenahi 
          Tiadalah Allah menzalimi hamaba-hambanya dengan semua keadaan kehidupannya, bagi dunia dan akheratnya, melainkan si hambalah yang merusak karunia dari-Nya dengan berbagai kezaliman dan arah langkah yang salah dari berbagai jalan kesesatan, baik kesesatan pada jahir (syareat) atau kesesatan pada batin (hakekat). Maka tiadalah dapat ternilai lurus bagi langkah-langkah yang hanya menetap pada jahir syareat saja, kecuali lurus pula pada hakekat yaitu; pada niat dan I’tiqod hatinya. Dan tiadalah dikatakan lurus pada batin hakekat melainkan menetap kuat pada Syareat_Nya. Wallohu a’lam.

Klik; Kajian Tasawuf, Falsafah Hikmah, Dongeng Sufi, Majelis Dzikir Internet (Madznet) & Majelis Taklim Internet (Matnet).; http://mamakkoswara.wordpress.com
Klik; Kajian Makrifat, spiritual & penyembuhan; www.mamak-koswara.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar